Saturday, 24 Aug 2019


Kementerian Kominfo RI: Cegah Stunting, Biasakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat

Penyelenggara dan peserta Forum Sosialisasi Genbest berfoto bersama, Selasa (2/7/2019).

WartaKita.org – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan selaku koordinator kampanye nasional penurunan prevalensi stunting menyelenggarakan Forum Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) di Hotel Galuh Prambanan, Kabupaten Klaten, Selasa (2/7/2019).

Forum Sosialisasi Genbest diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, kepala desa serta tokoh masyarakat Klaten.

Kepala Sub Direktorat Informasi dan Komunikasi Sosial, Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kominfo RI, Sarjono menyampaikan, Genbest merupakan inisiasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting.

“Melalui gerakan tersebut, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan mampu menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Sarjono menyatakan, Kabupaten Klaten merupakan satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting pada tahun 2019. Di Kabupaten Klaten ini ada 10 desa yang menjadi prioritas penanganan stunting, yaitu Desa Sanggarahan, Randusari, Titang, Sumyang, Granting, Ngaren, Butuhan, Keprabon, Tibayan, dan Gemblengan.

“Sosialisasi ini diikuti para peserta yang mayoritas para remaja putri.

Karena para remaja inilah yang di masa depan akan menjadi orang tua dan melahirkan generasi-generasi mendatang. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman yang cukup bagi generasi muda mengenai kesehatan menjadi kunci keberhasilan kampanye penurunan prevalensi stunting,” ujarnya.

Sarjono menjelaskan, pencegahan stunting harus dilakukan sedini mungkin. Bahkan sejak calon ibu masih remaja. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif masyarakat untuk mengubah perilaku dan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di lingkungannya agar melahirkan generasi mendatang yang terbebas dari masalah stunting.

“Untuk itu, Kominfo terus berkomitmen bahwa penyediaan informasi terkait isu stunting ini harus mudah diakses dan dipahami masyarakat. Salah satunya melalui Forum GenBest ini,” terangnya.

Sarjono menambahkan, informasi lebih lanjut seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak juga dapat diakses melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid serta @infokompmk. Aplikasi android ‘Anak Sehat’ juga bisa diunduh dan digunakan oleh masyarakat sebagai alat pantau digital tumbuh kembang anak.

Sarjono menerangkan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu sejak janin hingga anak berusia 24 bulan.

“Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menaruh perhatian terhadap prevalensi stunting dan telah berhasil menurunkan persentasenya dari 37,2% (Riskedas, 2013) menjadi 30,8% (Riskedas, 2018),” paparnya.

Sarjono mengungkapkan, meski persentase prevalensi stunting turun signifikan, namun angka tersebut masih tergolong tinggi, karena tiga dari 10 balita di Indonesia masih mengalami stunting. Namun, pemerintah optimistis persentasenya akan terus turun seiring dengan ragam kebijakan intervensi penanggulangan stunting.

“Pemerintah melakukan intervensi dalam dua skema. Pertama, intervensi spesifik atau gizi dengan melakukan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak, suplementasi gizi, pemberian tablet tambah darah, serta konsultasi. Dan kedua, intervensi sensitif atau non gizi seperti penyediaan sanitasi dan air bersih, lumbung pangan, alokasi dana desa, edukasi, serta sosialisasi,” jelasnya.

Sarjono menerangkan, program pemerintah untuk menurunkan stunting meliputi berbagai aspek, yaitu kesehatan maupun non kesehatan. Anggaran yang dialokasikan juga besar untuk menanggulangi isu ini.

“Namun, ragam program tidak akan berdampak banyak bila tidak disertai pola pikir sehat. Untuk itu, harus ada perubahan perilaku dari masyarakat,” tandasnya.

Sarjono mengungkapkan, sosialisasi stunting penting untuk mencegah munculnya sumber daya manusia (SDM) yang tidak kompeten ketika menghadapi bonus demografi pada 2030. Pemerintah juga tidak ingin SDM tersebut mundur sebelum pertandingan global karena kalah kompetisi akibat stunting. Pasalnya, pada tahun tersebut, diperkirakan 68% penyangga ekonomi Indonesia adalah usia produktif yang lahir saat ini.

Sarjono mengatakan, Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik mengamanatkan Kominfo agar mengoordinasikan isu sektor menjadi narasi tunggal untuk disampaikan ke masyarakat. Terkait hal tersebut, Kominfo berharap isu stunting dapat menjadi isu yang dikerjakan bersama.

“Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan dapat melakukan 3P yaitu Peduli, Pahami, dan Partisipasi untuk membantu pengurangan stunting. Peduli berarti masyarakat peduli dengan lingkungan sekitar dengan senantiasa mengamati kondisi balita di keluarga atau di lingkungannya. Pahami, yaitu mencari informasi sebanyak mungkin tentang stunting. Dan partisipasi berarti masyarakat berperan aktif dalam memberikan informasi yang benar pada keluarga serta masyarakat,” pesannya. (L Sukamta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *