Monday, 30 Nov 2020


Jalani Hidup Sederhana, Tetapi Cukup….

Isidorus Laurensius Parsudi

ISIDORUS Laurensius Parsudi, S.Pd adalah salah satu guru di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Kabupaten Klaten  yang memiliki banyak julukan. Orang biasa memanggilnya Pak Parsudi, Pak IL, dan terkadang Pak Langkir.

Parsudi lahir di Magelang, 5 Juli 1970. Dia menempuh pendidikan TK dan SD di desanya. Kemudian melanjutkan ke SMP Pangudi Luhur Srumbung, Magelang (1984), SMA Van Lith Magelang (1987), dan meneruskan kuliah di Universitas  Sanata Dharma (USD) Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI).

Pada tahun 1999, Parsudi mulai bekerja menjadi guru untuk para calon imam di SMA Katolik Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum, Blitar, Jawa Timur. Sejak itu, Parsudi menjadi guru Bahasa Indonesia satu-satunya sampai tahun 2018.

Selain menjadi guru, Parsudi juga diberi kepercayaan, diantaranya sebagai Kepala Sekolah TKK Santa Maria Fatima Garum, Komite SMPK Santo Vincentius Garum, sekretaris di sejumlah organisasi (gereja dan koperasi), dan lainnya.

Selama menjadi guru, dia juga aktif menulis. Adapun prestasi yang pernah diraihnya yaitu Juara nasional menulis cerita pendek berjudul “Atas Nama Batu” pada tahun 2001, juara nasional mengulas novel “Belenggu” karya Armjin Pane dengan judul “Refleksi tentang Kematian Keluarga” pada tahun 2007, dan pemenang dalam pemilihan puisi terbaik.

Parsudi juga pernah menjadi penulis kata pengantar pada true story berjudul “Angkot Cinta” dan pada buku berjudul “Melepaskan Panah Melukiskan Pelangi” sebagai editor bersama G Tri Wardoyo, CM. Selain menulis, ternyata dia juga memiliki bakat melukis wajah.

Di samping mengajar, Parsudi juga memiliki pekerjaan “sampingan”. Dia pernah ternak burung kenari, bebek, dan sapi, serta menanam jahe merah yang waktu itu harganya lumayan.

Semua dijalani dengan kerja keras dan senang hati. Dan ternyata perjuangannya tidak sia-sia. Hasilnya tak seberapa, namun cukup.

“Karena yang penting, hidup sederhana tetapi cukup,” katanya.

Kata-kata itulah yang menguatkan dirinya dalam menjalani lika-liku kehidupan ini.

(Klara Anggrahita Sciffi, Kelas XII IPS, SMA Marsudirini Muntilan/ls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *