Sunday, 17 Nov 2019


Introvert Versus Ekstrovert   

Introvert Versus Ekstrovert (sumber : internet)

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah kepribadian sering kali dikaitkan dengan sikap, sifat, atau pun kebiasaan seseorang. Sebenarnya kepribadian tidak sama dengan sikap, sifat, atau kebiasaan.

Namun sikap, sifat, atau pun kebiasaan seseorang dapat mencerminkan kepribadiaan seseorang. Kepribadian merupakan karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku.

Menurut Allport, kepribadian didefinisikan sebagai organisasi dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan (Friedman & Schustack, 2008).

Hubungan antar pribadi yang terjalin antar makhluk sosial yang memiliki beberapa kepribadian sering kali tidak terlepas dari konflik-konflik interpersonal yang ditimbulkan karena adanya perbedaan karakter, pendapat, dan sudut pandang. Terlebih karena pada masing-masing orang mempunyai perbedaan suku, agama, dan adanya perbedaan kepentingan, status ekonomi, status sosial, status keluarga yang kadang bisa menimbulkan gesekan antar kepribadian.

Keadaan yang berberbeda-beda ini seringkali menyebabkan benturan pola pikir dalam menyikapi masalah yang terjadi. Dalam menyikapi masalah yang ditimbulkan karena perbedaan, setiap pribadi juga berbeda-beda.

Kepribadian seseorang digolongkan menjadi 2 tipe, yaitu intovert dan ekstrovert. Penggolongan tipe kepribadian didasarkan pada perbedaan respon, kebiasaan, dan sifat-sifat yang ditampilkan oleh individu dalam melakukan hubungan interpersonal. Selain itu, tipe kepribadian juga menjelaskan posisi kecenderungan individu yang berhubungan dengan reaksi atau tingkah lakunya.

Kepribadian introvert adalah kepribadian yang tertutup, berorientasi kepada diri sendiri, tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang lebih banyak berpikir dan lebih sedikit beraktifitas. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang.

Ciri khas orang yang memiliki kepribadian introvert biasanya pendiam, tidak terlalu banyak bicara. Orang yang introvert juga cenderung pemalu, lebih mudah bersosialisasi jika bersama dengan orang yang sudah mereka kenal baik.

Meskipun sering dianggap sebagai pendiam, pemalu, dan penyendiri, sebenarnya seorang introvert bukan jenis orang yang selalu menutup diri dari dunia luar. Seorang introvers tetap bisa bersosialisasi, meski memang terlihat pemalu. Hal ini disebabkan orang introvert cenderung memproses sesuatu, berpikir dahulu sebelum berbicara, dan juga lebih memilih apa yang perlu diungkapkan pada orang lain dan tidak. Berbeda dengan ekstrovert yang lebih bersifat spontan dan tampak percaya diri mengungkapkan pendapatnya.

Seringkali kita bingung bagaimana cara menghadapi seorang introvers. Ada beberapa cara untuk menghadapi seorang introvers. Salah satunya adalah bertindak sesuai sifat. Bukan hanya orang yang berkepribadian introvert saja yang membutuhkan hal tersebut.

Sebagian orang akan merasa tertekan atau tidak suka jika dipaksa menggunakan bahasa dan komunikasi yang berbeda, seperti saat berbicara atau mengobrol dengan mereka yang dianggap “nyambung” alias mengerti apa saja yang dibicarakan. Lalu jangan memaksa atau mendebat. Meskipun mereka tidak bisa terbuka atau sulit terbuka, namun bukan berarti kita bisa memaksa mereka.

Banyak sekali orang yang salah paham dimana mereka yang introvert dipaksa untuk melakukan apa yang orang lain perintahkan. Padahal faktanya orang introvert juga memiliki pendapatnya sendiri, hanya mereka terlalu segan, malu bahkan takut untuk mengutarakannya. Cara yang efektif untuk mengalirkan percakapan dengan orang introvert adalah dengan melakukan pendekatan-pendekatan logis yang mampu membuat si introvert mau mengutarakan pendapatnya.

Kepribadian extrovert merupakan kebalikan dari introvert. Seseorang  dengan kepribadian extrovert lebih berkaitan dengan dunia di luar, tidak berorientasi hanya pada diri sendiri. Jadi, seorang yang memiliki kepribadian extrovert ini lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar.

Mereka adalah seorang yang lebih banyak beraktifitas dan lebih sedikit berpikir. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam keramaian atau kondisi dimana terdapat banyak orang, daripada di tempat yang sunyi. Jika mereka berada di tempat sunyi, bagi mereka adalah sesuatu yang membosankan.

Namun seorang yang berkepribadian ekstrovert yang mudah untuk menjalin pertemanan dan relasi, sangat mudah terpengaruh. Larut dalam pergaulan, sehingga jika dirinya masuk ke dalam pergaulan yang salah, maka akan memicu terjadinya gangguan psikologis remaja seperti kenakalan remaja. Seorang ekstrovert juga cenderung ceroboh. Hal ini karena mereka tidak berpikir panjang terlebih dahulu sebelum bertindak maupun berbicara, sehingga menyebabkan banyak masalah yang terjadi.

Menghadapi seorang ekstrovert dapat dilakukan antara lain dengan cara memberi pujian di depan umum, karena seorang ekstrovert sangat senang dengan perhatian, terlebih perhatian fisik, misalnya bersalaman mengucapkan selamat atau berpelukan. Walaupun begitu, seorang ekstrovert tidak senang apabila dirinya dibandingkan dengan yang lain.

Seorang ektrovert juga merupakan tipe orang yang mudah “down”. Maka dari itu, jangan patahkan semangatnya, karena sekali ia patah semangat sulit untuk bisa bangkit lagi. Orang-orang yang hidup di lingkungan seorang ektrovert juga perlu berlapang dada dan tidak mudah tersinggung. Karena seorang ekstrovert cenderung spontan dalam bertindak dan terkesan ceplas-ceplos dalam berbicara. Apa yang ingin mereka bicarakan biasanya langsung seketika itu mereka sampaikan.

Setiap kepribadian introvert maupun ekstrovert pasti mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jangan pernah menganggap bahwa setiap orang yang memiliki kepribadian introvert merupakan kepribadian yang buruk, begitu pula dengan kepribadian ekstrovert. Seorang yang memiliki kepribadian ekstrovert tidak selalu pribadi yang baik, karena juga ada sisi kelemahannya.

Wida Manggala Murti 

Mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat

ASMI Santa Maria Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *