Monday, 23 Nov 2020


Ingin Hasilkan Beras Rojolele Premium, DPKPP Klaten Lakukan Uji Coba Penanaman Varietas Di 22 Kecamatan

Komisi II DPRD Klaten bersama DPKPP saat meninjau lahan percontohan penanaman varietas padi rojelele srinuk di Desa Delanggu, Selasa (17/11/2020) pagi.

WartaKita.org – Upaya untuk mengembangkan varietas padi Rojelele Srinuk terus dilakukan oleh sejumlah pihak. Bahkan, uji coba penanaman varietas padi Rojelele Srinuk telah dilakukan di 22 kecamatan.

Dan untuk mengetahui upaya pengembangan itu, maka Komisi II DPRD Kabupaten Klaten bersama Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten meninjau lahan percontohan penanaman varietas padi rojelele srinuk di Dukuh Ngebong, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu pada Selasa (17/11/2020) pagi.

Para anggota dewan itu ingin melihat lebih dekat pengembangan varietas baru padi rojolele hasil kerjasama antara Pemkab Klaten dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) tersebut.

Ketua Komisi II DPRD Klaten Agus Riyanto menyampaikan, pihaknya mendengar adanya pengembangan padi rojolele yang dilakukan sejumlah pihak. Karena itu, mereka ingin mengetahui sejauh mana perkembangan dari upaya untuk mengembangkan varietas padi Rojelele Srinuk ini.

“Saat ini kami mengecek langsung ke lapangan. Kami ingin mengetahui perkembangan, dinamika, dan kendala apa yang dialami petani di lapangan. Kemudian, apa yang bisa kami perjuangankan supaya beras rojolele Delanggu yang dulunya jadi ikon Klaten ini memang benar-benar ada di Delanggu,” terangnya.

Agus Riyanto ingin memastikan, jika beras yang dijual dalam kemasan dengan merk rojolele asal Delanggu itu bukan oplosan lagi. Tetapi memang beras rojolele dari hasil pengembangan varietas baru yang telah dilakukan sejak 2013. Hingga akhirnya diluncurkan pada 2019 yang saat ini tengah dilakukan uji coba penanaman atau percontohan di 22 kecamatan di lahan seluas 162 hektar itu.

Agus menambahkan, usai peninjauan ini, pihaknya akan menindaklanjuti dengan menggelar rapat kerja dengan mengundang DPKPP dan Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten dalam waktu dekat. Termasuk ketua kelompok petani yang saat ini sedang uji coba menanam padi rojolele.

“Kita akan adakan rapat kerja. Dalam rapat kerja itu, bisa disampaikan apa saja. Terutama dari kelompok petani,” ujarnya.

Sedang Kepala DPKPP Klaten Widiyanti menjelaskan, kerjasama antara Pemkab Klaten dengan BATAN telah menghasilkan dua varietas padi rojolele yang dinamai srinuk dan srinar. Varietas ini telah memenuhi syarat untuk dilepas, hingga akhirnya diluncurkan pada 2019 lalu.

“Usai varietas ini diluncurkan, DPKPP Klaten sebagai dinas teknis menindaklanjuti hasil penelitian itu dengan melakukan uji coba penanaman di 22 kecamatan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana varietas yang telah mengalami modifikasi dan treatment radiasi ini cocok ditanam di seluruh wilayah Klaten pada tahun ini,” jelasnya.

Widiyanti mengatakan, dalam tahap ujicoba penanaman di lahan percontohan, DPKPP Klaten memberikan komponen berupa benih rojolele sebanyak 25 Kg per hektar, 220 Kg pupuk organik padat, serta 4 liter pupuk cair untuk masing-masing lokasi. Selanjutnya, perkembangan varietas padi rojolele ini terus dipantau hingga musim panen tiba.

“Varietas padi rojolele hasil inovasi ini telah mengalami perkembangan yang menggembirakan. Kalau sebelumnya usia padi rojolele dari tanam hingga panen sekitar 180 hari, kini menjadi 105 hari. Begitu pula dengan tinggi batangnya, dari 150 cm kini menjadi 90 cm. Sedang potensi hasilnya 9 ton gabah kering giling (GKG) per hektarnya,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto mengemukakan, uji coba penanaman padi rojolele di Desa Delanggu ini dilakukan di lahan seluas sekitar 4 hektar dengan sistem tanam jajar legowo.

“Kami berharap, dengan penanaman kembali varietas baru padi rojolele ini menjadikan Delanggu dikenal sebagai penghasil beras premium,” harapnya. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *