Friday, 26 Feb 2021


DPRD Jawa Tengah Menilai “Gerakan Jateng Di Rumah Saja” Berhasil, Tren Kasus Covid-19 Cenderung Turun

Anggota DPRD Jawa Tengah berfoto bersama usai siaran dialog di RSPD Klaten, Jumat (19/2/2021) pagi.

WartaKita.org – Anggota DPRD Jawa Tengah menilai “Gerakan Jateng Di Rumah Saja” yang diinisiasi Gubernur Ganjar Pranowo telah berhasil menekan laju penyebaran Covid-19 di provinsi ini.

Sebagai bukti, belakangan ini angka kasus Covid-19 cenderung turun.

Pernyataan ini mengemuka pada acara dialog yang dilakukan sejumlah anggota DPRD Jawa Tengah dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah 7 di Radio Siaran Publik Daerah (RSPD) Kabupaten Klaten pada Jumat (19/2/2021) pagi.

Hadir dalam dialog ini yaitu anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah Hartanto, anggota Komisi E Sumarsono, dan Wakil Ketua Komisi B Sri Marnyuni.

Acara dialog yang mengusung tema “Perkembangan Covid-19 di Jawa Tengah” ini dipandu oleh Penyiar RSPD Klaten Paidi.

Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah Hartanto menyampaikan, “Gerakan Jawa Tengah Di Rumah Saja” telah berhasil menekan laju penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah.

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, per 19/2/2021, kasus positif Covid-19 di Jateng ada sebanyak 144.964, sembuh 92.009 orang, dan meninggal 6.082 orang.

Meski begitu, penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah ada tren menurun. Ini antara lain karena warga menaati anjuran pemerintah.

“Karena itu, kita mengajak masyarakat untuk tetap mengikuti imbauan pemerintah terkait protokol kesehatan, yaitu 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak, membatasi mobilisasi dan interaksi, serta menjauhi kerumunan). Kalau tidak penting sekali, jangan bepergian. Lebih baik di rumah bersama keluarga,” kata anggota dewan dari Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten ini.

Sedang anggota Komisi E Sumarsono menyatakan, Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro seperti “Gerakan Jawa Tengah Di Rumah Saja” idealnya berlangsung dengan baik dan positif. Tetapi kenyataan di lapangan tidak berlangsung dengan mulus. Karena itu, Pemerintah Daerah harus mempunyai policy atau kebijakan yang lebih khusus sesuai dengan kondisi riel di masyarakat.

“Di Klaten misalnya, ada Gerakan “Jam sanga (21.00) ora lunga”. Kebijakan ini sudah mengerucut. Tetapi kebijakan ini memang perlu dipersiapkan dan disosialisasikan jauh-jauh hari. Sehingga masyarakat semakin peka dan peduli,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi B Sri Marnyuni mengatakan, PPKM Mikro yang dijalankan harus bisa membaca situasi. Terlebih untuk masyarakat yang sumber penghidupannya dari berjualan pada sore atau malam hari. Juga untuk warga yang suka nongkrong, atau yang sering pulang malam.

“Ini harus diperhatikan. Agar warga tetap memperoleh penghasilan. Kalau ABPD-nya cukup, bisa saja mereka diberi kompensasi. Karena kita sering mendengar keluhan seperti itu,” ungkapnya.

Sri Marnyuni menambahkan, kebijakan Sabtu Minggu di rumah saja perlu dikaji lebih komprehensif. Karena kebijakan ini berdampak di bidang pertanian, pariwisata, perekonomian, dan lainnya.

“Obyek wisata jangan ditutup total. Bisa saja diberlakukan sistem buka tutup. Asalkan tetap patuhi protokol kesehatan. Tetapi yang penting, sektor pariwisata tetap jalan, masyarakat mendapat penghasilan, dan ekonomi terus bergulir,” ucapnya.

Dalam dialog yang disiarkan secara live ini mengemuka, laju penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah ada tren menurun. Keterisian pasien Covid-19 di rumah sakit juga berkurang. Bahkan, dari 2500 tempat tidur yang disiapkan rumah sakit milik Pemprov Jateng, hanya 500 tempat tidur yang terisi. Sisanya, pasien melakukan isolasi mandiri di rumah. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *