Saturday, 24 Aug 2019


Dekatkan Layanan, Disdukcapil Klaten Lakukan Jemput Bola Perekaman KTP Elektronik

Petugas Disdukcapil Klaten saat melakukan perekaman KTP elektronik kepada warga disabilitas di Desa Muruh, Kamis (8/8/2019).

WartaKita.org – Sebanyak 11 orang warga lansia dan disabilitas Desa Muruh, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten tidak harus repot meninggalkan rumah mereka untuk melakukan perekaman KTP elektronik.

Pasalnya,  petugas dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Klaten langsung mendatangi warga yang belum melakukan perekaman KTP elektronik ini. Seperti yang dilakukan pada Kamis (8/8/2019).

Saat itu, petugas Disdukcapil dengan membawa peralatan lengkap seperti kamera, seperangkat komputer, kain sebagai backdrop, dan berkas yang dibutuhkan mendatangi warga satu per satu.

Perekaman jemput bola ini dilakukan untuk mendekatkan layanan, khususnya untuk menjangkau penduduk lanjut usia, keterbelakangan mental, hiperaktif, atau disabilitas yang tidak mungkin datang ke kantor Disdukcapil untuk melakukan perekaman KTP elektronik sendiri.

Kepala Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Klaten  Sri Hartanto menjelaskan, layanan jemput bola perekaman KTP elektronik ini sudah dilakukan sejak 2018 dan diperuntukan warga yang lanjut usia dan disabilitas.

“Di Klaten masih ada 60.000 warga yang belum melakukan perekaman KTP elektronik. Kebanyakan mereka adalah para lansia, sakit menua, disabilitas atau keterbelakangan mental. Bisa juga penduduk yang melakukan perekaman sebelum 2012 sehingga data tidak terlacak di database” jelasnya.

Sri Hartanto menambahkan, saat ini pencapaian perekaman penduduk Klaten sudah 95 persen. Sebaran penduduk yang merata dan jangkauan wilayah Klaten yang luas di 26 kecamatan dan 401 desa atau kelurahan menjadi tantangan tersendiri.

“Itu pun petugas harus berbagi dengan pelayanan kependudukan di kantor,” ujarnya.

Sri Hartanto mengatakan, untuk mendapatkan pelayanan jemput bola perekaman KTP elektronik sangat mudah. Warga cukup membuat surat ajuan yang diketahui kepala desa setempat dan menuliskan data warga yang ingin direkam meliputi nama, nomor induk kependudukan, tempat tanggal lahir dan status terakhir serta melampirkan kartu keluarga atau KK.  Oleh petugas, data itu akan dicek kebenarannya, baru dilakukan perekaman jemput bola di rumah penduduk.

“Petugas tidak bisa mengirimkan KTP elektronik hasil perekaman kepada yang bersangkutan. Tetapi harus diambil langsung oleh keluarga ke kantor. Sebab kalau ada kesalahan, petugas bisa segera melakukan perbaikan,” pesannya. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *