Tuesday, 19 Nov 2019


Cegah Paham Radikal, Wawasan Kebangsaan Perlu Ditingkatkan

Narasumber dan para tokoh agama serta tokoh masyarakat berfoto bersama.

WartaKita.org – Badan Intelkam Mabes Polri bekerjasama dengan Polres Klaten dan Pemerintah Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten mengadakan kegiatan Peningkatan Wawasan Kebangsaan Guna Membangun Kesetiaan Kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di aula kantor Kecamatan Tulung, Kamis (17/10/19).

Camat Tulung Rohmat Sugiarto menyampaikan kegiatan peningkatan wawasan kebangsaan ini bertujuan untuk melawan dan mencegah berkembangnya paham radikalisme di masyarakat.

Kegiatan peningkatan wawasan kebangsaan ini menampilkan dua narasumber, yaitu Direktur Amir Mahmud Institute yang juga salah satu “Alumni Afganistan” Dr Amir Mahmud dan Perwakilan dari Badan Intelkam Mabes Polri Ipda Subkan.

Dalam paparan, Direktur Amir Mahmud Institute Dr Amir Mahmud  menuturkan, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan landasan Negara yang sudah final. Karena itu, tidak boleh ada ideologi lain yang berkembang, dan bahkan mau mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lainnya.

“Bahaya paham radikalisme saat ini sudah merasuk ke sejumlah profesi dan lembaga. Diantaranya menyusup ke lembaga pemasyarakatan,  pendidikan, Aparatur Sipil Negara (ASN), pengajar, dan lainnya. Penyusupan paham radikalisme ini biasanya dilakukan oleh para pelaku terorisme,” katanya.

“Alumni Afganistan” ini menyampaikan, indikator berkembangnya paham radikalisme itu bisa dilihat dari beberapa hal, seperti menolak lagu kebangsaan, tidak mau hormat kepada bendera Merah Putih, tidak suka dengan Pemerintah yang sah, banyak ujaran kebencian, intoleransi, dan lainnya.

Sementara itu Perwakilan dari Badan Intelkam Mabes Polri Ipda Subkan menyatakan, paham radikalisme itu bertujuan untuk merubah hukum atau ideologi, sistem pemerintahan, dan bentuk Negara. Penyusupan paham radikalisme dilakukan melalui sejumlah metode, antara lain lewat keturunan, proses kekeluargaan, perekrutan dan propaganda.

“Sedang cara perekrutan antara lain dilakukan dengan pendekatan, pendoktrian, fanatik, intoleran, eksklusif, revolusioner, kekerasan, pembinaan, pembai’atan, dan lainnya,” ujarnya.

Ipda Subkhan mengatakan, propaganda paham radikalisme ini bisa menyebar karena masyarakat di Indonesia sudah banyak yang mengakses internet. Dan salah satunya banyak dikonsumsi oleh kalangan muda. Sehingga banyak dari kaum muda yang terpapar paham radikalisme.

“Media internet banyak dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan informasi dan berita serta tulisan atau konten – konten yang bermuatan paham radikalisme,” ucapnya. (L Sukamta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *