Tuesday, 19 Nov 2019


Bimas Katolik Kemenag Klaten: Guru Agama Harus Memiliki Sifat Pelayanan

Pembinaan guru agama Katolik dari Bimas Katolik Kemenag Klaten di aula Gereja Santo Ignatius Ketandan, Senin (23/9/2019).

WartaKita.org – Sejumlah 65 guru agama Katolik dari tingkat SD, SMP, SMA dan SMK se Kabupaten Klaten mendapat pembinaan dari Bimas Katolik Kemenag Klaten di aula Gereja Santo Ignatius Ketandan, Klaten pada Senin (23/9/2019).

Dalam pembinaan yang mengusung tema “Guru Profesional yang Disiplin dan Berintegritas” ini Bimas Katolik Kemenag Klaten YB Heru Kristomo menyampaikan mengenai persyaratan pemberkasan untuk tunjangan sertifikasi guru.

“Sertifikasi guru ini sebenarnya sudah berjalan  lama. Tetapi masih ada yang keliru atau salah setiap pemberkasan. Karena itu, agar kesalahan atau kekeliruan itu tidak terulang kembali, maka Bimas Katolik perlu memberikan materi persyaratan pemberkasan untuk sertifikasi guru,” katanya.

Heru menjelaskan, syarat untuk pemberkasan sertifikasi guru itu yakni berupa berkas yang dikumpulkan satu kali selama memperoleh Tunjangan Profesi Guru (TPG), berkas yang dikumpulkan kembali apabila ada perubahan, serta berkas yang dikumpulkan setiap kali pencairan.

Pada kesempatan itu, Heru menegaskan kembali akan tugas guru agama Katolik, yaitu sebagai pendidik di sekolah, dan harus terlibat (menjadi aktifis) dalam kegiatan di lingkungan, stasi, atau paroki.

“Guru agama Katolik jangan hanya berpikir mengenai upah atau gaji. Maksudnya, guru agama Katolik juga harus mau bekerja bila tidak ada upah atau gaji. Guru agama Katolik harus memiliki sifat pelayanan, seperti terlibat dalam pelayanan di Gereja,” tandasnya.

Sedang Pengawas Guru SD, Budi Jatmiko mengingatkan kembali akan perlu dan pentingnya Kelompok Kerja Guru (KKG) dan mengajak pengurus untuk menjadwalkan pertemuan rutin setiap bulan sekali pada minggu kedua.

“Perangkat mengajar yang belum dikumpulkan supaya segera diserahkan di kantor. Agar bila sewaktu-waktu ada pemeriksaan tidak grobyakan,” ujarnya.

Sementara itu Pengawas SMP, SMA dan SMK, Davik memaparkan mengenai guru profesional dan disiplin. Salah satu ciri dari guru profesional dan disiplin itu apabila guru memiliki administrasi mengajar yang lengkap dan tertib atau disiplin mengumpulkan absensi setiap bulannya sebelum tanggal 5.

“Kalau tidak melakukan persyaratan tersebut, walau guru itu pandai mengajar dan disenangi siswa, belum bisa dikatakan profesional. Tidak hanya guru yang dituntut profesional, para pengawas juga harus profesional,” ucapnya. (fx pardiman/ls)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *