Saturday, 8 Aug 2020


Biennale Bank Sampah Klaten Hasilkan 5 Rekomendasi, Akan Disampaikan Ke Presiden Jokowi

Kepala DLHK Klaten Srihadi (kedua dari kiri) berfoto bersama dengan Kepala Desa Paseban Eko Tri Raharjo (paling kiri), Kades Melikan Purwanto, dan Temanku Lima Benua usai menandatangani kesepakatan, Kamis (30/7/2020).

WartaKita.org – Gelaran Biennale Bank Sampah Klaten yang diadakan di Rumah Pilah Sampah di Dukuh Mogol, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, 23-30 Juli 2020 berakhir sudah.

Event yang diadakan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Klaten bekerja sama dengan Lima Benua Art Management, para seniman dan penggiat bank sampah ini berhasil menyepakati 5 rekomendasi.

Perwakilan dari Lima Benua Art Management, Temanku Lima Benua (Liben) saat penutupan Biennale Bank Sampah, Kamis (30/7/2020), menyampaikan, hasil dari Biennale Bank Sampah ini yaitu peserta mendukung Jakstranas (Kebijakan dan Strategi Nasional) pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga dengan lima rekomendasi.

Kelima rekomendasi itu yakni satu, organisasi Pemerintah harus progresif dan dinamis. Dua, dominasi ekonomi rente harus melalui fit and proper test. Tiga, Pemerintah harus berpihak dalam penganggaran yang wajar. Empat, good government dalam pengelolaan sampah dan tidak tumpang tindih. Dan lima, perlu melibatkan ahli komunikasi, sosialisasi dengan harga professional.

“Hasil dari Biennale Bank Sampah ini akan kita sampaikan secara terbuka kepada Presiden Joko Widodo,” kata Liben.

Biennale Bank Sampah ini ditutup oleh Bupati Klaten yang diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Klaten Srihadi.

Bupati Klaten dalam sambutan mengapresiasi dan menyambut baik acara Biennale Bank Sampah ini. Dari kegiatan ini diharapkan dapat mengubah mindset (pola pikir) masyarakat terkait sampah.

“Gerakan seperti ini harus terus dilakukan untuk mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola dan mengolah sampah. Caranya dengan terlebih dulu mengelola sampah dari sumbernya, seperti memilah sampah dari rumah masing-masing,” katanya.

Biennale Bank Sampah ini diisi dengan pameran karya seni dua dimensi dan tiga dimensi, diskusi, workshop, pameran hasil karya bank sampah, dan performing art yang bertema merubah mindset tentang sampah.

Dari Biennale Bank Sampah ini juga dihasilkan “rumah mikro” yang dibuat dari barang bekas. Menurut rencana, rumah makro ini akan diuji coba agar bisa dikembangkan di daerah lain sebagai upaya pemanfaatan barang bekas.

Pada penutupan Biennale Bank Sampah ini juga dilakukan penandatangan kesepakatan yang diwakili oleh Kepala DLHK Klaten Srihadi, Kepala Desa Paseban Eko Tri Raharjo, dan Kades Melikan Purwanto.

Acara penutupan Biennale Bank Sampah dimeriahkan dengan penampilan musik SWK Band dari Pedan, tarian selamat datang Gedrug Nata Birawa dari Temuireng, Jatinom, dan wayang kontemporer dengan dalang cilik Kasih Haryanto. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *