Saturday, 20 Apr 2019


Biaya Politik Mahal Picu Anggota DPR Lakukan Korupsi

Henry Indraguna dan para artis ibukota tampil menyanyi bersama pada pentas wayang kulit di Lapangan Godeg, Jumat (12/4/2019) malam.

WartaKita.org – Masalah korupsi di Indonesia yang sudah berlarut-larut mendapat perhatian dari banyak kalangan. Diantaranya dari kalangan seniman di daerah Solo Raya dan sekitarnya.

Setidaknya pembicaraan mengenai korupsi itu mengemuka saat adegan “Limbukan” pada pentas wayang kulit di Lapangan Godeg, Desa Ngenden, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali pada Jumat (12/4/2019) malam.

Pentas wayang kulit dengan lakon “Wahyu Katentreman” ini dimainkan oleh Dalang kondang Ki Anom Suroto. Pentas wayang kulit dimeriahkan penampilan Cak Diqin, Gareng Semarang, Eka Suranti, dan sejumlah artis ibukota seperti Delon Idol, Ratu Meta, Ely Sugigi, Evelyn Nada, dan Yama Carlos.

Dalam adegan Limbukan itu, Calon Legislatif (Caleg) Partai Perindo KRAT Henry Indraguna menyampaikan, akar permasalahan dari korupsi yang dilakukan oleh oknum anggota DPR RI ini adalah biaya politik yang mahal saat proses pencalegan.

“Harus diakui, berbicara masalah pencalegan itu bicara masalah suara, bicara masalah amplop. Untuk bisa jadi anggota DPR RI di Dapil (daerah pemilihan) ini, setidaknya dibutuhkan 100 ribu suara. Maka perlu disiapkan 100 ribu amplop. Kalau per amplop isinya Rp25 ribu, maka sudah Rp2,5 milyar. Ini belum biaya operasional untuk kordes (koordinator desa) dan korcam (koordinator kecamatan) yang bisa mencapai sekitar Rp1 milyar sampai Rp1,5 milyar. Belum lagi biaya untuk APK (alat peraga kampanye), dan operasional sehari-hari. Setidaknya, dibutuhkan sekitar Rp10 milyar,” katanya.

Caleg Partai Perindo nomor urut 1 ini menyatakan, uang sebanyak itu (Rp10 milyar) tidak akan bisa kembali selama 5 tahun menjadi anggota DPR.

“Kita tahu, berapa gaji DPR itu. Maka tidak mungkin akan kembali selama dia menjadi anggota dewan. Karena itu, pertama kali yang dipikirkan saat duduk di Senayan adalah bagaimana cara saya mengembalikan “modal” saya itu. Akhirnya, berpikirlah untuk melakukan korupsi,” ujarnya.

Untuk itu, pengacara kondang ini mengajak para caleg dan pemilih untuk menyetop politik uang dan menolak amplop.

“Kita perlu revolusi mental. Kita harus tolak amplop. Kita harus pilih Caleg yang cerdas, yang berkualitas, yang mau bekerja untuk rakyat,” ajaknya.

Pengusaha cuci mobil ini mengatakan, kalau mau kaya jadilah pengusaha. Jangan jadi DPR. Kalau jadi DPR ingin kaya, pasti akan masuk penjara.

“DPR itu wakil rakyat. Pelayan masyarakat, babu-ne (pembantunya) rakyat. Jadi, wakil rakyat itu dipilih untuk melayani, bukan untuk dilayani. Karena itu, saya mohon doa restu dan dukungan dari warga Boyolali untuk memilih saya pada Pemilu 17 April 2019 nanti,” ucapnya.

Pentas wayang kulit di Lapangan Godeg ini berlangsung gayeng. Warga Boyolali pun merasa terhibur dengan pentas wayang kulit yang diadakan Partai Perindo ini.

Pada siang sebelumnya, diadakan “Pesta Rakyat Boyolali” bersama Partai Perindo dengan acara bazar beras murah dan hiburan untuk rakyat. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *