Tuesday, 19 Nov 2019


Bangga Jadi Anak Katolik, Lakukan Empat S…

Mgr Robertus Rubiyatmoko saat berdialog dengan seorang anak pada Perayaan Hari Anak Misioner KAS di Lapangan Seminari Mertoyudan, Minggu (7/1/2018).

Wartakita.org – Lebih dari 8.000 anak menghadiri Perayaan Hari Anak Misioner (HAM) 2018 Keuskupan Agung Semarang (KAS) di Lapangan Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Minggu (7/1/2018).

Momen ini sekaligus untuk memperingati 175 tahun Serikat Karya Anak Misioner (Sekami).

Perayaan Ekaristi HAM 2018 ini dipersembahkan oleh Bapa Uskup KAS Mgr Robertus Rubiyatmoko bersama sejumlah imam.

Dalam homili, Mgr Rubiyatmoko bertanya kepada anak-anak yang hadir pada Ekaristi HAM itu.

“Apakah kalian bangga menjadi anak Katolik?” tanya Bapa Uskup.

Tanpa dikomando, anak-anak menjawab: “Bangga…,” teriak mereka.

Tenan…? Yakin…?” tanya Bapa Uskup sekali lagi.

Anak-anak pun kompak menyahut: “Bangga… Bapa Uskup…,” ucap mereka.

Kemudian, Mgr Rubiyatmoko melanjutkan pertanyaannya. “Mengapa kalian bangga dan gembira menjadi anak-anak Katolik?” tanya Bapa Uskup.

Dan terjadilah dialog antara Bapa Uskup dengan anak-anak. Dengan membawa mic, Bapa Uskup menghampiri anak-anak yang mau menjawab pertanyaannya. Ada sejumlah anak yang mau dan berani men-sharing-kan jawabannya.

Mereka bangga dan gembira menjadi anak-anak Katolik karena mempunyai (tradisi) Tanda Salib. Karena Tanda Salib ini hanya dimiliki orang Katolik, dan bisa dilakukan kapan saja. Juga karena mereka merasa disayang Tuhan, dan bangga karena mempunyai Tuhan Yesus.

Karena merasa bangga menjadi orang Katolik, maka Bapa Uskup mengajak anak-anak untuk menjadi pewarta sukacita kepada semua orang. Anak-anak diminta menjadi saksi-saksi Kristus.

Lalu, bagaimana caranya? Caranya dengan Empat S, yaitu Sehat, Suci, Sregep (rajin), dan Srawung (berelasi).

Mgr Ruby menjelaskan, untuk hidup sehat, maka anak-anak harus banyak makan sayur-sayuran (dan buah-buahan). Juga tidak mencoba “mencemari” tubuhnya dengan narkoba, rokok, miras (minuman keras), dan sebagainya.

Untuk hidup suci, anak-anak perlu membiasakan untuk membaca kitab suci dan berdoa setiap hari.

Dan agar sregep atau rajin, maka anak-anak diminta untuk membiasakan rajin dan aktif dalam berbagai kegiatan, baik di rumah, sekolah, lingkungan, Gereja, dan masyarakat.

Sedang dalam srawung (berelasi), anak-anak diajak untuk bergaul dengan siapa saja, dan tidak pilih-pilih.

“Dengan begitu maka saya mengajak anak-anak untuk menjadi anak-anak Katolik yang baik dengan Empat S itu. Kalau dalam hidup ada kesulitan-kesulitan, lihatlah Tuhan Yesus,” pesan Bapa Uskup.

Di bagian akhir Ekaristi, panitia melaporkan, ada sebanyak 8.130 anak PIA/PIR dan 348 orang pendamping dari 77 Paroki di KAS yang mendaftar untuk mengikuti Perayaan HAM ini. Jumlah sebanyak ini belum ditambah dengan orangtua dan pengantarnya.

Maka tak mengherankan kalau umat yang hadir membludak, sehingga Lapangan Seminari Mertoyudan itu tidak mampu menampungnya. Sampai-sampai, ada sebagian umat yang “berteduh” di Ruang Laudato Si Seminari Mertoyudan.

Rangkaian Perayaan HAM ini ditutup dengan persembahan sendratari bertema kebhinekaan dari Paroki Administratif Cawas, Kabupaten Klaten. Sebelumnya dikabarkan, rombongan mobil dari Paroki Cawas ini mengalami kecelakaan di daerah Tempel. Meski begitu, anak-anak dari Paroki Cawas tetap tampil dengan baik dan menghibur umat yang hadir. (L Sukamta)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *