Monday, 25 Jan 2021


Agar Umat Bisa Beribadat Dengan Baik, Misa Di Paroki Jetis Terapkan Protokol Kesehatan Secara Ketat

Gereja Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.

WartaKita.org – Gereja Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta sudah memulai misa secara offline atau langsung pada Sabtu (15/8/2020) dengan melakukan pembatasan umat yang hadir.

Sehubungan dengan diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru dan dibukanya rumah ibadah, maka gereja Paroki Jetis membatasi misa dengan memberlakukan 1 misa untuk 1 wilayah,  dan dengan jumlah umat yang hadir maksimal 250 orang dan 30 petugas.

Pembukaan kembali rumah ibadah ini bukanlah perkara yang mudah. Banyak sekali persyaratan yang harus diurus oleh Paroki Jetis ke dinas terkait, terutama ke Satuan Tugas Covid-19 Yogyakarta.

Paroki harus menyiapkan kelengkapan administrasi data dan fasilitas pendukung seperti tempat cuci tangan, tanda jaga jarak pada setiap bangku, dan alat pendukung lainnya.

Ternyata, tidak semua umat dapat mengikuti misa secara offline. Dalam Surat Edaran Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Paroki Santo Albertus Agung Yogyakarta nomor: 027/DHP/VII/2020 tertanggal 8 Juli 2020 mengatur: umat yang diperkenan mengikuti peribadatan adalah umat yang berusia lebih dari 10 tahun dan kurang dari 65 tahun, umat dalam keadaan sehat, dan tidak memiliki penyakit bawaan yang rentan.

Karena itu, untuk menjamin rasa aman umat akan kemungkinan tertular Covid-19, maka Tim Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Paroki Jetis menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Seperti memakai masker, mengecek suhu tubuh, mencuci tangan, menjaga jarak pada saat duduk di bangku, tidak bersalaman saat Salam Damai, menerima hand sanitizer sebelum komuni, dan menerima komuni hanya melalui tangan atau tidak dengan mulut.

Penyesuaian durasi lamanya misa juga menjadi perhatian bagi Tim Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Paroki Jetis. Karena lamanya misa adalah 1 jam.

Setelah misa selesai, umat diarahkan oleh petugas untuk keluar dan diharapkan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing, sehingga tidak terjadi kerumunan di sekitar gereja. Kemudian gereja selalu disemprot dengan disinfektan setelah selesai digunakan.

Ini dilakukan karena kasus Covid-19 belum mengalami penurunan, bahkan cenderung mengalami kenaikan terus-menerus dengan total 5.645 kasus.

Dengan adanya aturan yang sudah ditetapkan, pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat, serta para petugas yang menjalankan aturan dengan baik diharapkan umat bisa beribadat dengan tenang dan aman. Untuk itu, umat Paroki Jetis tidak perlu ragu untuk mengikuti misa secara offline. (Adhimas Yudhistira, mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta/ls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *