Tuesday, 20 Apr 2021


10,6 Persen Balita di Klaten Berpotensi Stunting, 10 Desa Mendapat Prioritas Penanganan

Acara “Rembug aksi percepatan penurunan stunting Kabupaten Klaten” di Pendopo Kabupaten Klaten, Selasa (6/4/2021).

WartaKita.org – Sebuah kabar kurang baik.

Sekitar 10,6 persen balita di Kabupaten Klaten berpotensi mengalami stunting atau kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya.

Pernyataan ini disampaikan Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dissos P3AKB) Kabupaten Klaten Muh Nasir pada acara “Rembug aksi percepatan penurunan stunting Kabupaten Klaten” di Pendopo Kabupaten Klaten, Selasa (6/4/2021).

“Berdasarkan data, sekitar 10,6 persen balita di Kabupaten Klaten mengalami stunting. Stunting ini bisa dipengaruhi oleh pola asuh, pola hidup, sanitasi, dan sebagainya,” katanya.

Muh Nasir menyatakan, pada penimbangan dan pengukuran tinggi badan di bulan Agus 2020 terdapat 8.407 balita yang mempunyai tinggi badan (TB) pendek dan sangat pendek.

“Laporan tahun 2020 menunjukkan, sebanyak 660 bayi laki-laki terlahir dengan TB di bawah 48 cm, dan 614 bayi perempuan terlahir dengan TB di bawah 47 cm,” ujarnya.

Muh Nasir menjelaskan, ada 10 desa di Kabupaten Klaten yang angka stuntingnya tinggi. Kesepuluh desa yaitu Desa Beji (Kecamatan Tulung), Cawan ( Jatinom), Karangjoho (Karangdowo), Plosowangi (Cawas), Sidorejo (Kemalang), Kalangan (Pedan), Kemudo (Prambanan), Barepan (Cawas), Tarubasan (Karanganom), dan Jungkare (Karanganom).

“Di sepuluh desa itu, kita akan lakukan penanganan secara lebih serius. Kita akan programkan edukasi mengenai pentingnya 1000 hari pertama kelahiran (1000 HPK), edukasi kepada para remaja tentang pentingnya pendewasaan usia perkawinan, bina keluarga, dan sebagainya. Tujuannya agar angka stunting di Kabupaten Klaten terus menurun,” terangnya.

Sedang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten Cahyono Widodo mengatakan, untuk mencegah dan menangani stunting ini dibutuhkan sinkronisasi program dan kegiatan.

“Ini bertujuan agar stunting bisa tertangani dengan baik, dan tidak terjadi tumpang tindih program dan kegiatan. Misalnya antara Dinas Kesehatan dengan Pemerintah Desa,” tandasnya.

Acara “Rembug aksi percepatan penurunan stunting Kabupaten Klaten” ini menampilkan sejumlah narasumber, diantaranya dari Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bappeda Klaten Sunarno, dan Kepala Dissos P3AKB Klaten.

Dalam kesempatan itu, peserta “Rembug aksi percepatan penurunan stunting Kabupaten Klaten” menyepakati pertama, berkomitmen dalam penceghan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Klaten.

Kedua, Untuk menurunkan stunting di Kabupaten Klaten dengan melakukan kegiatan intervensi terintegrasi.

Ketiga, secara berkala dan berkelanjutan melaksanakan sosialisasi, monitoring, dan evaluasi dalam penurunan stunting di Kabupaten Klaten.

Keempat, meningkatkan peran desa/kelurahan dalam melakukan konvergensi percepatan pencegahan stunting di desa/kelurahan.

Dan kelima, rencana program/kegiatan dalam rangka percepatan pencegahan stunting yang dilaksanakan pada tahun 2021. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *