Saturday, 24 Aug 2019


1.305 Seniman Semarakkan Festival Ketoprak Antarkecamatan se Klaten

Bupati Klaten Sri Mulyani memukul kentongan saat membuka festival ketoprak antarkecamaan, Senin (15/7/2019) malam.

WartaKita.org – Festival Ketoprak Antarkecamatan se Kabupaten Klaten yang berlangsung di panggung terbuka RSPD Klaten, 15-19 Juli 2019 ini sungguh menggembirakan.

Pembukaan Festival Ketoprak Antarkecamatan dilakukan pada Senin (15/7/2019) malam.

Dalam laporan, Ketua panitia festival ketoprak antarkecamatan, Joko Krisnanto menyampaikan, festival ketoprak antarkecamatan ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke 215 Kabupaten Klaten dan HUT ke 74 RI, sebagai ajang silaturahmi, media untuk mengajarkan budi pekerti yang adi luhung, dan menuju Klaten sebagai Kota Ketoprak.

“Festival ketoprak diikuti oleh 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Klaten dan melibatkan 1.305 seniman dan seniwati. Ini yang menggembirakan bagi kita semua. Festival ketoprak memperebutkan piala Bupati Klaten,” katanya.

Sedang Bupati Klaten Sri Mulyani dalam sambutan menyambut baik dan mengapresiasi gelaran festival ketoprak antarkecamatan ini.

“Saya mengapresiasi kegiatan festival ketoprak antarkecamatan ini. Festival ketoprak ini menjadi ajang silaturahmi bagi seniman dan seniwati, memberikan hiburan yang murah dan meriah kepada masyarakat, dan tentunya untuk nguri-uri kesenian tradisional yang ada di Klaten,” ujarnya.

Bupati Sri Mulyani juga mendukung keinginan masyarakat untuk menjadikan Klaten sebagai Kota Ketoprak.

“Saya sangat mendukung gagasan menjadikan Klaten sebagai Kota Ketoprak. Karena itu, festival ketoprak di tahun mendatang agar dikemas lebih meriah dan lebih semarak lagi. Syukur kita bisa meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dalam penyelenggaraan festival ketoprak,” harapnya.

Pada festival ketoprak antarkecamaan ini setiap kecamatan diberi kesempatan tampil satu jam. Setiap kecamatan berupaya untuk tampil maksimal.

Namun sayangnya, penampilan para pemain ketoprak ini tidak dibarengi dengan sound system yang mumpuni. Akibatnya, dialog antar pemain kadang tidak terdengar, atau sering mbenging, sehingga mengganggu kenyamanan penonton. (L Sukamta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *